Minggu, 08 Februari 2015
Peri
Pastinya, kau sedang dibuai mimpi ketika kutulis ini,
Meluruhkan lelah yang merangkul di sepanjang hari
Sehabis meleburkan jiwa, meletupkan tawa, melupakan diri dari segala
Membaurkan diri dengan para peri, dan kau salah satunya
Tidurlah yang lelap
Reguk haus mimpimu bersama rinai hujan yang berderap
Terpejamlah dengan tenang
Selami sejuknya telaga imaji yang 'tak terbatas ruang
Tentunya, kau sedang terbebas dari dunia materi ketika kurasakan ini
Rasa yang mengalun beriring hujan menggulung embun
Rindu yang sukar ku ungkap meski kuat mendesak
Membuat degup, detak dan gerak 'tak lagi tertata, terserak
Aku yang masih terjaga
Menyerahkan jemari, hati dan jiwa
Dituntun remang malam menuju kecupan pagi
Dirasuki dingin jutaan benang perak yang mencadari mentari
Pastinya kau sedang terlelap dan bermimpi
Ketika kutulis dan rasakan ini, wahai peri
"Buon dormire"
@doel_12
Senin, 06 Oktober 2014
Dari sebatang rokok dan segelas kopi pagi
Kirana mentari pagi tampak seperti tombak-tombak tajam yang membelesak dari celah daun kelapa di belakang rumah. Bulir embun yang masih menggantung di pucuk rumput liar, menanti siramananya agar terlihat berkilauan bak mutiara, meskipun itu membuat mereka harus hangus terpanggang cahaya, lenyap di pelukan udara. Awal hari yang beda, gumamku, sambil merasakan godaman keras di kepala akibat waktu tidur yang tidak wajar belakangan ini, karena kecongkakanku sendiri.
Malam-malam sepi yang kulewati, 'tak jua membuat aku sadar akan keangkuhanku kepadamu. Aku merasa, aku telah mengerti dan memahamimu, ternyata hanya seujung kuku yang aku tau, itupun masih sangat berlebih dan tak pantas buatku. Jumawa yang bersemayam di dalam dada membuat kau lenyap, hilang dan pergi tanpa tanda, dan aku hanya bisa menantimu datang dengan sapa. Aku yang begitu sombong, mencoba melahirkan wujudmu ketika membahasakan jingga senja, mengawinkan kata-kata ditengah malam dalam jaga, membuat aku merasa memang diciptakan untuk menjadikan kau ada, dalam baris-baris kata, dari cumbuan bermacam aksara. Aku begitu jumawa.
Segelas kopi pagi, menebarkan aroma yang menjalar cepat menuju sel-sel otak. Menggelitik memori yang terjadi ketika aku menantimu di malam hari. Menatap kosong selembar kertas kesepian, menggenggam kaku sebatang pena yang membisu, tidak mampu aku mengundangmu menuju pelukku. Jam dinding terkekeh mengejekku yang termangu di bibir subuh, kamu masih 'tak terrengkuh.
Sebatang rokok mulai kubakar guna menemani kopi pagi. Kepulan asapnya terus membumbung tinggi hingga lenyap 'tak terlihat lagi. Mengacuhkan harumnya aroma segelas kopi pagi. Dan akhirnya aku tersadar, kerendahan hati adalah kunci pembuka gembok jeruji inspirasi. Mengutus fetus puisi tanpa putus, tanpa henti.
Kusadari ini, dari sebatang rokok dan segelas kopi pagi.
Kamis, 28 Agustus 2014
Aku yakinkan...
Wahai penghias mimpiku,
Detik yang menggandeng waktu
Bisa saja melangkahi seluruh isi bumi hingga berdebu
Tapi cintaku padamu tetap utuh meski tahun berlalu
Rasa sayangku, tidak seperti jingga senja di ujung hari
Mempesona laksana selendang bidadari
Lantas pergi bersama mentari sisakan sepi
Bukan pula seperti lingkar purnama,
Yang hanya beberapa malam bulatnya terlihat sempurna
Dan selanjutnya menjadi sabit bahkan hilang tanpa nama ditelan gulita
Wahai kau yang terkasih,
Janganlah berharap aku ini pelangi indah berwarna warni
Meski keelokannya membius tatapmu 'tuk ikut menari
Tapi lengkungnya tak memijak bumi tempat kau berdiri
Bagaimana bisa menemani, terlebih lagi mengerti?
Untukmu yang bertahta dalam jiwa,
Aku adalah udara
Yang selalu ada mengisi rongga dada
Mengantar gema harap kala fajar merayap
Mengalunkan senandung rindu selepas petang berlalu
Kepadamu penyejuk hati,
Aku tau tak ada yang abadi di alam materi ini
Tapi aku berjanji dengan pasti
Ketika rasa ini hilang, terbang melayang
Aku yakinkan,
Hari itu adalah hari di saat aku berpulang
Kembali ke hadapan Tuhan Yang Maha Penyayang
@doel_12
Detik yang menggandeng waktu
Bisa saja melangkahi seluruh isi bumi hingga berdebu
Tapi cintaku padamu tetap utuh meski tahun berlalu
Rasa sayangku, tidak seperti jingga senja di ujung hari
Mempesona laksana selendang bidadari
Lantas pergi bersama mentari sisakan sepi
Bukan pula seperti lingkar purnama,
Yang hanya beberapa malam bulatnya terlihat sempurna
Dan selanjutnya menjadi sabit bahkan hilang tanpa nama ditelan gulita
Wahai kau yang terkasih,
Janganlah berharap aku ini pelangi indah berwarna warni
Meski keelokannya membius tatapmu 'tuk ikut menari
Tapi lengkungnya tak memijak bumi tempat kau berdiri
Bagaimana bisa menemani, terlebih lagi mengerti?
Untukmu yang bertahta dalam jiwa,
Aku adalah udara
Yang selalu ada mengisi rongga dada
Mengantar gema harap kala fajar merayap
Mengalunkan senandung rindu selepas petang berlalu
Kepadamu penyejuk hati,
Aku tau tak ada yang abadi di alam materi ini
Tapi aku berjanji dengan pasti
Ketika rasa ini hilang, terbang melayang
Aku yakinkan,
Hari itu adalah hari di saat aku berpulang
Kembali ke hadapan Tuhan Yang Maha Penyayang
@doel_12
Minggu, 10 Agustus 2014
#baladasenja
Di satu senja,
Ketika gulungan ombak lembut mengecup bibir dermaga
Kutantang tatap matamu yang basah berkaca
Meningkap tangis yang kau paksa reda
Luruh juga tubuhmu dalam pelukku
Senggukmu menggetarkan dadaku
Membahasakan beban perpisahan yang kita rasakan
Tampak derai camar terbang melintasi kita
Dan ingin kumaki Afrodit juga Athena saat itu juga
Cahya cakrawala menyiram jingga pada ombak kecil yg berlari
Menaburkan kilau permata di setiap riak yang menari
Mengusik bahtera yang akan melarungkan mimpi
Dan mendamparkanku dalam sepi, di sini
Melepas kau pergi dengan sebuah janji, kembali
...
Tak jemu aku menghitung purnama yang singgah
Mengais remah-remah kenang di tepian dermaga
Hingga akhirnya, asaku menyerah didera lelah
Dan hanya mampu berkisah
Sebilah senja yang indah telah membelah kita, berpisah
@doel_12
Senin, 14 Juli 2014
Sebrangi Lautan Demi Persija
Seperti biasanya, gue selalu mencatat setiap perjalanan yang gue lakukan, baik naik gunung juga menonton pertandingan Persija khususnya di luar kota, bukan untuk gaya - gayaan, karena gue cuma fans biasa, tidak ada apa - apanya jika dibandingkan dengan mereka yang datang setiap Persija berlaga, baik kandang maupun tandang. Tapi buat gue, setiap perjalanan dan kejadian punya tempat untuk dicatat, sekedar sebagai alat agar mudah mengingatnya atau lebih dari itu.
Seperti sore itu, diawali dengan sepiring nasi uduk yang telah habis gue santap begitu juga Tovan,
donatur gue dalam beberapa tour tandang belakangan ini. Sambil menunggu jemputan
yang mengantar kami ke GBK, tepatnya Hall Basket Senayan, gue dan Tovan menyempatkan diri untuk mengisi perut terlebih dahulu. Tidak lama berselang,
mobil yang akan mengantar kami pun akhirnya tiba. Di dalamnya sudah ada kepala
suku, Mas Iyon dan 4 orang lainnya, yaitu Bayu, Batok, Ajun dan Daus. Beruntung
untuk kami, lalu lintas pada saat itu tidak terlalu macet, sehingga kami tidak
perlu berpanas - panas ria di dalam mobil tersebut.
Sekitar jam 9 malam, akhirnya kami tiba di tempat tujuan pertama kami, Hall Basket Senayan. Sudah banyak para loyalis Persija yang berkumpul di
sekitaran gedung, gue dan teman rombongan lain mencari tempat untuk beristirahat
dan mengakrabkan diri masing - masing, karena ini kali pertama gue bertemu dan
melakukan tour tandang bersama mereka, kecuali Mas Iyon dan juga Tovan
pastinya. Sama seperti tour tandang sebelumnya, yaitu ke Jepara, kali ini juga
gue ikut dengan rombongan Curva Sud Persija (CSP) . Bedanya, pada perjalanan
kali ini, CSP tidak berangkat sendiri, karena akan berangkat bersama Tiger Bois, juga Garis Keras dan The Jakmania Pusat yang titik
keberangkatanya dari Lebak Bulus.
Setelah memastikan semua peserta sudah hadir dan berada di
dalam bus, kamipun akhirnya berangkat menuju Pelabuhan Merak, diawali dengan
do'a bersama yang di pimpin oleh pentolan CSP, Bang Bontot. Gue duduk bersama
Tovan di belakang kursi yang diduduki oleh Batok, Ajun dan Daus, sedangkan Mas
Iyon duduk bersama Bayu. Suasana di dalam bus mendadak meriah ketika Bang Bapuk
mulai bersuara, meledek sopir hingga kernet bus yg kami sewa.
Malam terus bergerak meniti jejak orbit yang menuntunnya
pada dekapan pagi, dingin angin laut menyambut kedatangan kami di pelabuhan Merak
pada pukul 2 pagi. Beberapa waktu berselang, tibalah giliran bus yang kami tumpangi
memasuki lambung kapal. Sesampainya di dalam kapal, gue bersama Tovan
menjelajahi setiap bagian kapal, mulai dari depan sampai belakang. Menikmati
suasana tepian malam ditengah selat yang kami seberangi, menatap bintang yang gemerlap bak lazuardi, mendengar deburan ombak yang menabrak kapal di kedua sisi.
Setelah merasa cukup, kami berdua kembali bergabung dengan Mas Iyon dan yang
lainnya. Kembali bercengkrama dengan teman 1 rombongan, sambil mendengarkan chants
yang dikumandangkan oleh beberapa orang di sisi yang berhadapan dengan bagian
kapal yang kami tempati.
Setelah kurang lebih 3 jam, akhirnya kapalpun sandar di Pelabuhan
Bakauheni. Tanpa basa - basi lagi, kami melanjutkan perjalanan kami. Niat untuk
singgah sejenak ke markas Jak Lampung yang sudah menyiapkan
"sambutan" untuk kami, terpaksa dibatalkan, lantaran jalur yang diambil
bukanlah jalur yang melintasi basis mereka. Badan yang terasa lelah juga
melewati malam di kapal tanpa tertidur, membuat gue pulas di bangku bus,
terlebih Tovan yang sudah tertidur lebih dulu.
Tidur ganteng gue berakhir ketika bus berhenti di sebuah rumah
makan di daerah Tulang Bawang, tempat pertama yg gue injak di tanah sebrang. Selain
istirahat, kesempatan ini juga gue pergunakan untuk sarapan juga membersihkan
badan. Dan sialnya, gue dan beberapa The Jak yang lain kehabisan lauk untuk
sarapan, hal ini dikarenakan terlalu lama antri di kamar mandi. Terpaksa kami
harus menunggu beberapa saat, hingga lauk kembali tersedia.
Sarapan pagi telah usai, dan kami siap melanjutkan
perjalanan kami. Banyak waktu di dalam bus gue lewatkan dengan tertidur. Meski
terkadang terbangun karena badan terasa pegal - pegal. Sampai pada suatu tempat
yang namanya gue tidak tau, gue cukup menikmati perjalanan dengan melihat
berbagai macam pura yang berderet di sepanjang tepi jalan, mulai dari yang
kecil hingga yang cukup besar. Masing - masing rumah di sini memiliki pura nya sendiri - sendiri, dan di antara deretan indah pura, ekor mata gue menangkap
sebuah bangunan yang berbeda, yaitu mushola. Sekejap senyum gue mengembang,
inilah Indonesia, dengan segala heterogenitasnya. Semoga tetap bisa menjaga
kerukuan antar sesamanya, sebab pelangi terlihat indah karena aneka warna yang
berpadu, bukan beradu tapi berpadu.
Dari balik jendela bus yang kerainya terbuka, larik - larik
jingga mulai terlihat di langit Sumatra. Hari sudah mulai malam, tapi
perjalanan masih cukup panjang untuk sampai ke tempat tujuan. Gue dan Tovan
sesekali bercanda dan berbincang, sekedar untuk menghilangkan rasa bosan.
Selama perjalanan, Tovan lebih sering tertidur, jujur saja, gue sampai takut
dia lupa bagaimana caranya buka mata, meski terkadang masih sempat berbalas
pesan dengan "seseorang", tapi itu tidak berlangsung lama. Karena,
kalau dibandingkan dengan waktu tidurnya, itu tidak ada apa - apanya.
Waktu terus bergulir, berkejaran dengan roda - roda bus yang kami naiki. Setelah berhenti beberapa kali untuk beristirahat di tengah perjalanan, sekitar
jam 10 malam akhirnya kami tiba di tempat tujuan. Sebuah ruko baru yang belum
digunakan, disediakan oleh anak - anak Sriwijaya mania untuk tempat menginap
kami. sebuah tempat yang lebih dari kata cukup, pasalnya selain cukup luas, tempat ini juga lumayan bersih (karena belum digunakan) dan yang terpenting adalah ada aliran dan terminal listrik untuk nge charge hp. Yup...sepertinya nge charge hp sudah menjadi kebutuhan primer dan ternasuk dalam kategori sembilan bahan pokok sekarang - sekarang ini.
Istirahat panjang sehabis lelah diombang - ambing di dalam bus selama perjalanan hanyalah angan semata, karena pada kenyataannya keinginan menikmati kota Palembang di malam minggu lebih besar dibanding rasa lelah yang dirasa. Selain itu, rasa lapar juga membuat gue, Tovan, Mas Iyon dan Bayu akhirnya menyudahi istirahat kami untuk keluar menikmati suasana malam dan berwisata kuliner. Selain untuk berwisata kuliner, sebenarnya kami juga menunggu Tesa, salah satu ketua korwil Singamania, yang akan menemui kami di sekitar sini. Berbeda dengan Bayu, selain menuggu Tesa dia juga sedang resah dan gelisah menanti perjumpaanya kembali dengan Putri, gadis Palembang yang dikenalnya ketika Jakmania Tour Palembang 1 tahun yang lalu. Tapi ya Bay, shot jarak jauh Ismed Sofyan aja bisa gagal, apalagi hubungan jarak jauh. :)
Selesai bersantap malam, ternyata Tesa belum juga datang untuk menemui kami, guna membunuh rasa bosan selama menunggu, kamipun bermain domino di depan Kilinik yang beroperasi 24 jam, di samping ruko tempat kami menginap. Daus, Ajun dan Batok pun bergabung bersama kami, tidak hanya berpartisipasi dalam permainan, mereka juga berpartisipasi dalam meledek Mas Iyon yang sering kalah dan ngocok juga pastinya. Selang beberapa waktu, akhirnya Tesa datang menemui kami. Dan susanapun bertambah riuh dalam canda juga tawa. Sayangnya, tidak lama setelahnya, Mas Iyon mengajak Tesa pergi mengunjungi Jembatan Ampera, dan permainanpun terpaksa selesai begitu saja. Gue, Tovan dan Bayu memilih tidur, sedangkan Daus, Ajun dan Batok pergi menyusul Mas Iyon dan Tesa berwisata malam ke Jembatan Ampera.
Sinar mentari pagi mengusik mimpi gue agar cepat pergi. Dan pagi yang cerah itu kian lengkap ditaburi dengan cerita lucu yang gue dengar tentang kejadian di malam hari. Jadi, ketika malam hari ada salah seorang The Jak yang menginap di sini dirasuki arwah kakeknya, lantaran dia mengingkari pantangan yang sudah mereka setujui. Dan parahmya, bukan dapat bantuan dari yang lain, malah dijadikan bahan lelucon seperti acara - acara misteri yang tayang di TV pada tengah malam, dan rekaman videonya berhasil membuat orang yang melihatnya tertawa. Setidaknya itu yang gue dengar dari cerita - cerita yang beredar di pagi itu.
Waktupun terasa bergerak bagitu cepat, setelah menumpang mandi di SPBU yang jaraknya lumayan jauh, siangnya isi perut dengan pempek, lalu main kartu domino (lagi), tertidur (lagi) setelahnya dan ketika bangun sudah diminta bersiap untuk berangkat, ke tujuan yang utama, Stadion Jakabaring. Suasana mendadak riuh, mulai dari membereskan barang bawaan yang bertambah banyak karena oleh - oleh, merapikan banner yang dijadikan alas tidur, melipat bendera yang di pasang di jendela bangunan dan yang paling ramai adalah antrian di depan kamar mandi. :)
Diawali dengan doa bersama, buspun bertolak menuju medan laga, dimana punggawa Persija akan bertarung demi kehormatan lambang Monas yang tersemat di dada. Dan kami, tidak akan pernah membiarkan para ksatria Ibu Kota bertarung sendiri, dan itulah alasan kami berada di sini, melangkahi jarak, menyebrangi lautan, hingga menjengkali pulau sebrang, demi kebanggaan yang akan tetap ada dalam hati, demi cinta yang tidak akan pernah mati dan demi nama yang merajut kami dalam ikatan suadara bahkan lebih dekat dari keluarga, Persija Jakarta.
Beberapa jam sebelum pertandingan, bus pun menepi di area sekitar Stadion Jakabaring, setelah sebelumnya berputar - putar mencari tempat parkir yang disediakan. Daus, Ajun dan Batok bertugas untuk memasang banner di dalam stadion, sedangkan Gue, Tovan dan Mas Iyon merapikan tas untuk disimpan di dalam bagasi bus. Setelah beres, gue dan Tovan berjalan - jalan di sekitar stadion, sambil mencari object yang bagus untuk dijadikan background foto :). Setelah merasa cukup, kamipun bergabung kembali dengan yang lain, ternyata di sana sudah ada Bayu bersama Putri, dan yang terpenting adalah mereka membawa makanan. Disusul oleh Rafli, anggota Jak Palembang dan kemudian disusul oleh Tesa yang membawa satu kantong pempek, beberapa waktu berselang. :)
Semakin sore, standionpun semakin ramai di datangi oleh para supporter, baik tuan rumah maupun tamu. Selepas maghrib, kami memasuki tribun stadion melalu gerbang utara. Di dalamnya sudah terlihat berbagai macam bendera dukungan yang dikibarkan, yel - yel pembangkit semangat yang diteriakan, dan bunyi tambur yang dipukul semakin membuat stadion bergemuruh. Kami ditempatkan di tribun utara, diapit oleh Singamania dan Curva West, wait...Curva West ? baru denger dan terkesan sedikit maksa sih, tapi yaudahlah ya apa kata mereka aja.
Tepat pukul 19:00 wasit meniupkan peluit tanda pertandingan dimulai, baik Persja dan Sriwijya terkesan bermain hati - hati pada awal laga. Hingga akhirnya pada menit 19 Lancine Kone mampu memaksa Andrytani memungut bola dari gawangnya untuk yang pertama kali. Anehnya bukan malah semangat setelah kemasukan, Persija semakin terlihat kendor dalam bermain, keadaan yang dimanfaatkan oleh pemain Sriwijaya FC untuk terus memborbardir pertahanan Persija, dan Lancine Kone mampu memaksimalkan keadaan tersebut dengan mencetaak goal yang kedua. Harapan muncul di awal babak kedua, ketika Ramdani mampu memperkecil ketertinggalan, tapi keadaan itu tidak berlangsung lama, beberapa menit kemudian Anis Nabar mengubur harapan kami untuk mencuri poin dari Palembang dengan goal nya. Pertandinganpun selesai dengan kedudukan 3 - 1 untuk kemenangan Sriwijaya FC, selamat :)
Selain permainan Persija yang tidak sesuai dengan harapan kami, pertandingan tersebut juga "dibumbui" dengan beberapa kali bentrok supporter yang terjadi sepanjang pertandingan antara kedua kelompok supporter tuan rumah dengan saling melempar air keras ke masing - masing pihak lawan. Hal yang mengakibatkan kami tertahan beberapa saat sebelum meningalkan stadion.
Rencana untuk langsung bertolak pulangpun akhirnya harus berubah, dengan bergerak kembali ketempat kami menginap. Dengan kawalan beberapa sepeda motor dan satu mobil pick up dari pihak Singamania, kami berangkat meninggalkan titik awal keberangakatan. Benar saja, tidak terlalu jauh dari titik awal, bus yang kami naiki mendapat sambutan dari "temannya" Ozy Shahputra yang menganggap diri mereka adalah sekumpulan Ultras. Bentrokpun tidak bisa dihindarkan, maaf ralat, bukan bentrok, lebih tepatnya mengejar pelaku pelemparan tidak bisa dihindarkan, karena kata bentrok terlalu jantan bagi mereka yang melempar batu atau air keras lantas sembunyi di gelapnya gang. Setelah beberapa kali keluar dan masuk bus untuk merespon "sambutan" yang dilakukan, akhirnya kami memasuki jalur yang steril dari kelompok yang menganggap diri mereka sebagai Ultras itu. Dan wajah tenangpun diperlihatkan oleh Mas Iyon, sebab sebelumnya sempat gusar karena Batok yang keluar mengejar pelaku hingga masuk ke dalam gang, sudah memberi kabar. Perpisahan dengan Singamania pun ditutup dengan yel-yel ucapan terimakasih dari kami. Setelahnya, perjalanan pulangpun lancar tanpa kendala, kecuali gerutu penyesalan yang mengganjal selepas membayar dan meninggalkan Rumah Makan Pagi Sore. :)
Akhir kata, gue mau mengucapkan terimakasih untuk CSP yang memberi gue kesempatan untuk menikmati letupan pengalaman bersama kalian. Terimakasih juga untuk Singamania dan Sriwijaya Mania.
Untuk Persija, sungguh indah mencintaimu, begitu manis menggilaimu, sambutlah cinta kami dengan dekapan kemenangan, balaslah kegilaan kami dengan pekikan juara ketika mengangkat piala di ujung liga. Kami rindu moment 2001, dan percayalah kami akan terus bersamamu, menunggu terulangnya moment itu.
Di bawah langit ini, kami telah berjanji,
kamu takan pernah sendiri
'tak peduli itu gelap, 'tak peduli itu sakit
kami di sini untukmu, Persija ku
Rabu, 04 Juni 2014
Tanya
Lima tangkai bunga di beranda
Menemaniku termangu menatap kerling bintang memesona
Jiwa coba meraba makna tabula rasa
Seketika, sesal tersedu telah mencederainya dengan dosa
Kenapa hanya di malam sunyi seperti ini sadar terdera ?
Sebaris tanya yang memuntahkan jutaan tanya lainnya
Sunyi terus meniti malam yang menggamit jemari pagi
Tanpa peduli dengan pekikan letih kereta api
Masih ditemani lima tangkai bunga di beranda
Cahaya merah di ujung menara
Bukan mercusuar bagi pelaut yang kehilangan arah
Ku tatap kembali sekelilingku dengan seksama
Di mana aku berada
Kepada siapa aku seharusnya bertanya
Minggu, 25 Mei 2014
Rapuh
Apa kabar kamu yang menatapku dari dunia abadi ?
365 hari tanpa kamu di sisi
Aku kira rindu ini akan pergi bersama hari yang berlari
Ternyata itu hanya ilusi yang kubuat sendiri
Sejatinya, sabar memang tanpa batas
Ma'af, bukannya aku 'tak ikhlas melepas
terkadang, kenang yang tiba - tiba terlintas
Menusuk mataku hingga terasa pedas
Dan butiran hangat membelah pipi dengan deras
Semenjak kamu pergi
Kamar ini seperti bermutasi
Terlalu luas untuk kutinggali sendiri
Hingga sepi menginfeksi dari tiap sisi
Aku rindu kamu,tempatku berkeluh
Aku rindu sapamu di tiap subuh
Aku harap, jemarimu menyeka air mataku yang baru saja jatuh
Tapi ternyata, harap itu yang membuat aku semakin rapuh
*Dedicated to Y, who miss her lovely someone
@doel_12
Langganan:
Postingan (Atom)















