Senin, 14 Juli 2014

Sebrangi Lautan Demi Persija

Seperti biasanya, gue selalu mencatat setiap perjalanan yang gue lakukan, baik naik gunung juga menonton pertandingan Persija khususnya di luar kota, bukan untuk gaya - gayaan, karena gue cuma fans biasa, tidak ada apa - apanya jika dibandingkan dengan mereka yang datang setiap Persija berlaga, baik kandang maupun tandang. Tapi buat gue, setiap perjalanan dan kejadian punya tempat untuk dicatat, sekedar sebagai alat agar mudah mengingatnya atau lebih dari itu.

Seperti sore itu, diawali dengan sepiring nasi uduk yang telah habis gue santap begitu juga Tovan, donatur gue dalam beberapa tour tandang belakangan ini. Sambil menunggu jemputan yang mengantar kami ke GBK, tepatnya Hall Basket Senayan, gue dan Tovan menyempatkan diri untuk mengisi perut terlebih dahulu. Tidak lama berselang, mobil yang akan mengantar kami pun akhirnya tiba. Di dalamnya sudah ada kepala suku, Mas Iyon dan 4 orang lainnya, yaitu Bayu, Batok, Ajun dan Daus. Beruntung untuk kami, lalu lintas pada saat itu tidak terlalu macet, sehingga kami tidak perlu berpanas - panas ria di dalam mobil tersebut.

Sekitar jam 9 malam, akhirnya kami tiba di tempat tujuan pertama kami, Hall Basket Senayan. Sudah banyak para loyalis Persija yang berkumpul di sekitaran gedung, gue dan teman rombongan lain mencari tempat untuk beristirahat dan mengakrabkan diri masing - masing, karena ini kali pertama gue bertemu dan melakukan tour tandang bersama mereka, kecuali Mas Iyon dan juga Tovan pastinya. Sama seperti tour tandang sebelumnya, yaitu ke Jepara, kali ini juga gue ikut dengan rombongan Curva Sud Persija (CSP) . Bedanya, pada perjalanan kali ini, CSP tidak berangkat sendiri, karena akan berangkat bersama Tiger Bois, juga Garis Keras dan The Jakmania Pusat yang titik keberangkatanya dari Lebak Bulus.



Setelah memastikan semua peserta sudah hadir dan berada di dalam bus, kamipun akhirnya berangkat menuju Pelabuhan Merak, diawali dengan do'a bersama yang di pimpin oleh pentolan CSP, Bang Bontot. Gue duduk bersama Tovan di belakang kursi yang diduduki oleh Batok, Ajun dan Daus, sedangkan Mas Iyon duduk bersama Bayu. Suasana di dalam bus mendadak meriah ketika Bang Bapuk mulai bersuara, meledek sopir hingga kernet bus yg kami sewa.

Malam terus bergerak meniti jejak orbit yang menuntunnya pada dekapan pagi, dingin angin laut menyambut kedatangan kami di pelabuhan Merak pada pukul 2 pagi. Beberapa waktu berselang, tibalah giliran bus yang kami tumpangi memasuki lambung kapal. Sesampainya di dalam kapal, gue bersama Tovan menjelajahi setiap bagian kapal, mulai dari depan sampai belakang. Menikmati suasana tepian malam ditengah selat yang kami seberangi, menatap bintang yang gemerlap bak lazuardi, mendengar deburan ombak yang menabrak kapal di kedua sisi. Setelah merasa cukup, kami berdua kembali bergabung dengan Mas Iyon dan yang lainnya. Kembali bercengkrama dengan teman 1 rombongan, sambil mendengarkan chants yang dikumandangkan oleh beberapa orang di sisi yang berhadapan dengan bagian kapal yang kami tempati.



Setelah kurang lebih 3 jam, akhirnya kapalpun sandar di Pelabuhan Bakauheni. Tanpa basa - basi lagi, kami melanjutkan perjalanan kami. Niat untuk singgah sejenak ke markas Jak Lampung yang sudah menyiapkan "sambutan" untuk kami, terpaksa dibatalkan, lantaran jalur yang diambil bukanlah jalur yang melintasi basis mereka. Badan yang terasa lelah juga melewati malam di kapal tanpa tertidur, membuat gue pulas di bangku bus, terlebih Tovan yang sudah tertidur lebih dulu.

Tidur ganteng gue berakhir ketika bus berhenti di sebuah rumah makan di daerah Tulang Bawang, tempat pertama yg gue injak di tanah sebrang. Selain istirahat, kesempatan ini juga gue pergunakan untuk sarapan juga membersihkan badan. Dan sialnya, gue dan beberapa The Jak yang lain kehabisan lauk untuk sarapan, hal ini dikarenakan terlalu lama antri di kamar mandi. Terpaksa kami harus menunggu beberapa saat, hingga lauk kembali tersedia.

Sarapan pagi telah usai, dan kami siap melanjutkan perjalanan kami. Banyak waktu di dalam bus gue lewatkan dengan tertidur. Meski terkadang terbangun karena badan terasa pegal - pegal. Sampai pada suatu tempat yang namanya gue tidak tau, gue cukup menikmati perjalanan dengan melihat berbagai macam pura yang berderet di sepanjang tepi jalan, mulai dari yang kecil hingga yang cukup besar. Masing - masing rumah di sini memiliki pura nya sendiri - sendiri, dan di antara deretan indah pura, ekor mata gue menangkap sebuah bangunan yang berbeda, yaitu mushola. Sekejap senyum gue mengembang, inilah Indonesia, dengan segala heterogenitasnya. Semoga tetap bisa menjaga kerukuan antar sesamanya, sebab pelangi terlihat indah karena aneka warna yang berpadu, bukan beradu tapi berpadu.

Dari balik jendela bus yang kerainya terbuka, larik - larik jingga mulai terlihat di langit Sumatra. Hari sudah mulai malam, tapi perjalanan masih cukup panjang untuk sampai ke tempat tujuan. Gue dan Tovan sesekali bercanda dan berbincang, sekedar untuk menghilangkan rasa bosan. Selama perjalanan, Tovan lebih sering tertidur, jujur saja, gue sampai takut dia lupa bagaimana caranya buka mata, meski terkadang masih sempat berbalas pesan dengan "seseorang", tapi itu tidak berlangsung lama. Karena, kalau dibandingkan dengan waktu tidurnya, itu tidak ada apa - apanya.

Waktu terus bergulir, berkejaran dengan roda - roda bus yang kami naiki. Setelah berhenti beberapa kali untuk beristirahat di tengah perjalanan, sekitar jam 10 malam akhirnya kami tiba di tempat tujuan. Sebuah ruko baru yang belum digunakan, disediakan oleh anak - anak Sriwijaya mania untuk tempat menginap kami. sebuah tempat yang lebih dari kata cukup, pasalnya selain cukup luas, tempat ini juga lumayan bersih (karena belum digunakan) dan yang terpenting adalah ada aliran dan terminal listrik untuk nge charge hp. Yup...sepertinya nge charge hp sudah menjadi kebutuhan primer dan ternasuk dalam kategori sembilan bahan pokok sekarang - sekarang ini.

Istirahat panjang sehabis lelah diombang - ambing di dalam bus selama perjalanan hanyalah angan semata, karena pada kenyataannya keinginan menikmati kota Palembang di malam minggu lebih besar dibanding rasa lelah yang dirasa. Selain itu, rasa lapar juga membuat gue, Tovan, Mas Iyon dan Bayu akhirnya menyudahi istirahat kami untuk keluar menikmati suasana malam dan berwisata kuliner. Selain untuk berwisata kuliner, sebenarnya kami juga menunggu Tesa, salah satu ketua korwil Singamania, yang akan menemui kami di sekitar sini. Berbeda dengan Bayu, selain menuggu Tesa dia juga sedang resah dan gelisah menanti perjumpaanya kembali dengan Putri, gadis Palembang yang dikenalnya ketika Jakmania Tour Palembang 1 tahun yang lalu. Tapi ya Bay, shot jarak jauh Ismed Sofyan aja bisa gagal, apalagi hubungan jarak jauh. :)

Selesai bersantap malam, ternyata Tesa belum juga datang untuk menemui kami, guna membunuh rasa bosan selama menunggu, kamipun bermain domino di depan Kilinik yang beroperasi 24 jam, di samping ruko tempat kami menginap. Daus, Ajun dan Batok pun bergabung bersama kami, tidak hanya berpartisipasi dalam permainan, mereka juga berpartisipasi dalam meledek Mas Iyon yang sering kalah dan ngocok juga pastinya. Selang beberapa waktu, akhirnya Tesa datang menemui kami. Dan susanapun bertambah riuh dalam canda juga tawa. Sayangnya, tidak lama setelahnya, Mas Iyon mengajak Tesa pergi mengunjungi Jembatan Ampera, dan permainanpun terpaksa selesai begitu saja. Gue, Tovan dan Bayu memilih tidur, sedangkan Daus, Ajun dan Batok pergi menyusul Mas Iyon dan Tesa berwisata malam ke Jembatan Ampera.

Sinar mentari pagi mengusik mimpi gue agar cepat pergi. Dan pagi yang cerah itu kian lengkap ditaburi dengan cerita lucu yang gue dengar tentang kejadian di malam hari. Jadi, ketika malam hari ada salah seorang The Jak yang menginap di sini dirasuki arwah kakeknya, lantaran dia mengingkari pantangan yang sudah mereka setujui. Dan parahmya, bukan dapat bantuan dari yang lain, malah dijadikan bahan lelucon seperti acara - acara misteri yang tayang di TV pada tengah malam, dan rekaman videonya berhasil membuat orang yang melihatnya tertawa. Setidaknya itu yang gue dengar dari cerita - cerita yang beredar di pagi itu.

Waktupun terasa bergerak bagitu cepat, setelah menumpang mandi di SPBU yang jaraknya lumayan jauh, siangnya isi perut dengan pempek, lalu main kartu domino (lagi), tertidur (lagi) setelahnya dan ketika bangun sudah diminta bersiap untuk berangkat, ke tujuan yang utama, Stadion Jakabaring. Suasana mendadak riuh, mulai dari membereskan barang bawaan yang bertambah banyak karena oleh - oleh, merapikan banner yang dijadikan alas tidur, melipat bendera yang di pasang di jendela bangunan dan yang paling ramai adalah antrian di depan kamar mandi. :)

Diawali dengan doa bersama, buspun bertolak menuju medan laga, dimana punggawa Persija akan bertarung demi kehormatan lambang Monas yang tersemat di dada. Dan kami, tidak akan pernah membiarkan para ksatria Ibu Kota bertarung sendiri, dan itulah alasan kami berada di sini, melangkahi jarak, menyebrangi lautan, hingga menjengkali pulau sebrang, demi kebanggaan yang akan tetap ada dalam hati, demi cinta yang tidak akan pernah mati dan demi nama yang merajut kami dalam ikatan suadara bahkan lebih dekat dari keluarga, Persija Jakarta.

Beberapa jam sebelum pertandingan, bus pun menepi di area sekitar Stadion Jakabaring, setelah sebelumnya berputar - putar mencari tempat parkir yang disediakan. Daus, Ajun dan Batok bertugas untuk memasang banner di dalam stadion, sedangkan Gue, Tovan dan Mas Iyon  merapikan tas untuk disimpan di dalam bagasi bus. Setelah beres, gue dan Tovan berjalan - jalan di sekitar stadion, sambil mencari object yang bagus untuk dijadikan background foto :). Setelah merasa cukup, kamipun bergabung kembali dengan yang lain, ternyata di sana sudah ada Bayu bersama Putri, dan yang terpenting adalah mereka membawa makanan. Disusul oleh Rafli, anggota Jak Palembang dan kemudian disusul oleh Tesa yang membawa satu kantong pempek, beberapa waktu berselang. :)






Semakin sore, standionpun semakin ramai di datangi oleh para supporter, baik tuan rumah maupun tamu. Selepas maghrib, kami memasuki tribun stadion melalu gerbang utara. Di dalamnya sudah terlihat berbagai macam bendera dukungan yang dikibarkan, yel - yel pembangkit semangat yang diteriakan, dan bunyi tambur yang dipukul semakin membuat stadion bergemuruh. Kami ditempatkan di tribun utara, diapit oleh Singamania dan Curva West, wait...Curva West ? baru denger dan terkesan sedikit maksa sih, tapi yaudahlah ya apa kata mereka aja.



Tepat pukul 19:00 wasit meniupkan peluit tanda pertandingan dimulai, baik Persja dan Sriwijya terkesan bermain hati - hati pada awal laga. Hingga akhirnya pada menit 19 Lancine Kone mampu memaksa Andrytani memungut bola dari gawangnya untuk yang pertama kali. Anehnya bukan malah semangat setelah kemasukan, Persija semakin terlihat kendor dalam bermain, keadaan yang dimanfaatkan oleh pemain Sriwijaya FC untuk terus memborbardir pertahanan Persija, dan Lancine Kone mampu memaksimalkan keadaan tersebut dengan mencetaak goal yang kedua. Harapan muncul di awal babak kedua, ketika Ramdani mampu memperkecil ketertinggalan, tapi keadaan itu tidak berlangsung lama, beberapa menit kemudian Anis Nabar mengubur harapan kami untuk mencuri poin dari Palembang dengan goal nya. Pertandinganpun selesai dengan kedudukan 3 - 1 untuk kemenangan Sriwijaya FC, selamat :)

Selain permainan Persija yang tidak sesuai dengan harapan kami, pertandingan tersebut juga "dibumbui" dengan beberapa kali bentrok supporter yang terjadi sepanjang pertandingan antara kedua kelompok supporter tuan rumah dengan saling melempar air keras ke masing - masing pihak lawan. Hal yang mengakibatkan kami tertahan beberapa saat sebelum meningalkan stadion.

Rencana untuk langsung bertolak pulangpun akhirnya harus berubah, dengan bergerak kembali ketempat kami menginap. Dengan kawalan beberapa sepeda motor dan satu mobil pick up dari pihak Singamania, kami berangkat meninggalkan titik awal keberangakatan. Benar saja, tidak terlalu jauh dari titik awal, bus yang kami naiki mendapat sambutan dari "temannya" Ozy Shahputra yang menganggap diri mereka adalah sekumpulan Ultras. Bentrokpun tidak bisa dihindarkan, maaf ralat, bukan bentrok, lebih tepatnya mengejar pelaku pelemparan tidak bisa dihindarkan, karena kata bentrok terlalu jantan bagi mereka yang melempar batu atau air keras lantas sembunyi di gelapnya gang. Setelah beberapa kali keluar dan masuk bus untuk merespon "sambutan" yang dilakukan, akhirnya kami memasuki jalur yang steril dari kelompok yang menganggap diri mereka sebagai Ultras itu. Dan wajah tenangpun diperlihatkan oleh Mas Iyon, sebab sebelumnya sempat gusar karena Batok yang keluar mengejar pelaku hingga masuk ke dalam gang, sudah memberi kabar. Perpisahan dengan Singamania pun ditutup dengan yel-yel ucapan terimakasih dari kami. Setelahnya, perjalanan pulangpun lancar tanpa kendala, kecuali gerutu penyesalan yang mengganjal selepas membayar dan meninggalkan Rumah Makan Pagi Sore. :)

Akhir kata, gue mau mengucapkan terimakasih untuk CSP yang memberi gue kesempatan untuk menikmati letupan pengalaman bersama kalian. Terimakasih juga untuk Singamania dan Sriwijaya Mania.

Untuk Persija, sungguh indah mencintaimu, begitu manis menggilaimu, sambutlah cinta kami dengan dekapan kemenangan, balaslah kegilaan kami dengan pekikan juara ketika mengangkat piala di ujung liga. Kami rindu moment 2001, dan percayalah kami akan terus bersamamu, menunggu terulangnya moment itu.

Di bawah langit ini, kami telah berjanji, 
kamu takan pernah sendiri
'tak peduli itu gelap, 'tak peduli itu sakit
kami di sini untukmu, Persija ku 

( Field of GBK_ Merseyside Ska )



@doel_12

Rabu, 04 Juni 2014

Tanya

Lima tangkai bunga di beranda
Menemaniku termangu menatap kerling bintang memesona
Jiwa coba meraba makna tabula rasa
Seketika, sesal tersedu telah mencederainya dengan dosa

Kenapa hanya di malam sunyi seperti ini sadar terdera ?
Sebaris tanya yang memuntahkan jutaan tanya lainnya

Sunyi terus meniti malam yang menggamit jemari pagi
Tanpa peduli dengan pekikan letih kereta api

Masih ditemani lima tangkai bunga di beranda
Cahaya merah di ujung menara
Bukan mercusuar bagi pelaut yang kehilangan arah

Ku tatap kembali sekelilingku dengan seksama
Di mana aku berada
Kepada siapa aku seharusnya bertanya

@doel_12


Minggu, 25 Mei 2014

Rapuh

Apa kabar kamu yang menatapku dari dunia abadi ?
365 hari tanpa kamu di sisi
Aku kira rindu ini akan pergi bersama hari yang berlari
Ternyata itu hanya ilusi yang kubuat sendiri

Sejatinya, sabar memang tanpa batas
Ma'af, bukannya aku 'tak ikhlas melepas
terkadang, kenang yang tiba - tiba terlintas
Menusuk mataku hingga terasa pedas
Dan butiran hangat membelah pipi dengan deras

Semenjak kamu pergi
Kamar ini seperti bermutasi
Terlalu luas untuk kutinggali sendiri
Hingga sepi menginfeksi dari tiap sisi

Aku rindu kamu,tempatku berkeluh
Aku rindu sapamu di tiap subuh

Aku harap, jemarimu menyeka air mataku yang baru saja jatuh
Tapi ternyata, harap itu yang membuat aku semakin rapuh


*Dedicated to Y, who miss her lovely someone

@doel_12


Senin, 28 April 2014

Cinta Seorang Kawan

Melewati paruh malam, jejak - jejak hujan tadi sore masih tertinggal di basahnya daun dan desah angin dingin yg mengalun, tapi sayangnya rasa kantuk belum bisa membuai mata saya dengan senandung kidungnya. Lampu kamar telah padam, akan tetapi masih saja belum bisa terpejam, malahan berbagai bayang berkelebatan di alam pikiran. Dan ketika lesatan neuron yang ada di otak saya menabrak prefont cortex, membuat saya teringat dengan percakapan saya dengan seorang teman, dan saya ingin mengingatnya lebih dalam.


Beberapa waktu yang lalu, saya sempat mengirim pesan ke teman saya. Isi pesannya adalah sebuah draft yang niatnya akan saya muat di blogg ini. Dia adalah orang yang saya anggap cukup mengerti dan memahami bahasa aneh saya. Makanya, tidak jarang saya mengirimi dia beberapa draft yg telah saya buat, sekedar untuk mengetahui respon dia terhadap apa yang telah saya tulis, sekaligus mengharapkan pendapatnya yang kritis. Sekitar 5 menit kemudian saya menerima pesan balasan darinya, ternyata komentarnya tidak ada yg istimewa menurut saya. Sehingga draft itupun masih rapi saya simpan, urung saya muat hingga sekarang.


2 bulan berselang, saya bertemu denganya di kediaman salah satu teman saya yang merupakan tetangganya juga. Kami membincangkan banyak hal dengan dia waktu itu, mulai dari suara seraknya Karni Ilyas, Anas yg belum juga digantung di Monas sampai imutnya Nabilah JKT 48 ketika mengumbar senyuman.



"setelah gue baca pesan lo tempo hari, kok gue jadi kangen dia ya ?!". Ucapnya tiba - tiba.
"Kayaknya udah lama banget gue enggak kirim 'surat' buat dia, kelewat disibukin kerjaan, sama godaan setan yg bikin males gue enggak ilang - ilang". Lanjutnya.

Kemudian dia akhiri dengan ungkapan yg lebih mirip sebagai pesan.

"Lakuin yang bisa lo lakuin buat dia, gue jamin nikmatnya belipat ganda ketika lo bisa liat senyum dia, nyata di depan lo punya mata. Jangan nunggu tanggal 22 Desember buat ungkapin dan curahin rasa sayang lo, karena dia sekalipun enggak pernah nunggu pagi ketika tengah malem lo nangis pengen ASI. Selagi dia masih ada, jangan pernah sia - siain waktu yang tersisa. Enggak kaya gue, kalo lagi kangen kayak gini nyiksanya bikin kering mata. Cuma bisa kirim 'surat', dengan harapan, dia tidur tenang hingga terompet dibunyikan. Pengen ketemu aja cuma bisa lewat mimpi, itupun enggak selalu ketemu setiap kali gue mau".


Saya tau kemana arah tujuan pembicaraanya, bertahun berteman membuat selaput yang menutupi isi dari inti hidup kami terbuka, seiring dengan kisah yang masing - masing kami bagi. Termasuk tentang perempuan hebat yang membuat matanya berlinang ketika rindu menggenang. Perempuan yang hanya satu - satunya diciptakan untuknya di semesta raya. Perempuan yang kasihnya 'tak mengharapkan balasan dari yang telah menerima curahannya, dan perempuan yang mencintainya tanpa syarat, pun sebaliknya. 


Mendengarnya, saya hanya terdiam dan memberikan tanggapan yang bahkan anak kelas 4 SD pun bisa mengatakan apa yg telah saya katakan. Waktu itu saya takut, takut ketika tangan waktu merenggut perempuan mulia dalam hidup saya tanpa bisa ditunda, dan saya hanya bisa kalut meratapinya. Membenamkan saya ke dalam samudra penyesalan yang dalamnya 'tak terperikan, karena saya belum sempat menghiasi wajahnya dengan senyum kebanggaan. Membayangkanya saja saya sudah gemetaran. Saya tidak pernah bermimpi untuk membalas tuntas kasih sayangnya, sebab saya tau, kasih dan sayangnya 'tak sebanding dengan apa yang sudah dan akan saya lakukan. Saya cuma berharap, sebelum ia pergi, nanti, saya bisa lihat senyumnya yang hakiki.



Beberapa minggu setelah percakapan kami malam itu, saya membaca status facebooknya, di status akunnya ia menulis,

"Alhamdulillah,,karna rizkiMu,acara sadekahan semalem berjalan lancar,
Meski sedikit menguras air mata,tapi itu terjadi karena kami selalu mengenang kasih sayangmu semata,dan bukan karna kami (anak - anakmu) belum ikhlas atas kepergianmu ibu."

Membacanya, bibir saya menyunggingkan senyum, benak di dada bergetar dan berkata, "akhirnya...semoga beliau ditempatkan-Nya di tempat yang layak, aamiin."




Kasih ibu
Kepada beta
'tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi 
'tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari dunia


Tanpa saya sadari, lagu yang sering saya nyanyikan ketika saya masih SD ini, baru saya mengerti maknanya lebih dalam lagi. Diiringi deru kipas angin di gelapnya ruang kamar, saya lantunkan lagu itu dalam gumam, mengantar saya menjemput mimpi di ujung malam.


@doel_12

Selasa, 31 Desember 2013

Mengejar Fajar

" Eh Doel, kapan - kapan kita naik gunung yuk, bosen nih maen ke taman terus ", kata Maria di tengah - tengah obrolan kami di Taman Suropati, Menteng. Pada awalnya saya sangsi, mengingat cuma saya dan dia yang pernah naik gunung. Belum lagi melihat ukuran badan Dewi yang bongsor ( jangan pernah bilang dia gemuk, kalau tidak mau muntah darah kena santet ), sisanya Ratih dan Ryan, yang juga belum pernah merasakan sensasi magis di tengah hutan. Setelah mereka meyakinkan saya, akhirnya mendaki masuk agenda kami.

Karena kesibukan kami masing - masing ( kecuali saya ), rencana mendakipun berdebu, 'tak tersentuh dalam beberapa purnama.Sampai pada akhirnya UAS pun selesai. Di sela - sela libur semester, kami yang memang biasa berkumpul untuk melangsungkan hidup " English Club " di kalangan kami sendiri, yang biasanya diakhiri dengan menonton DVD bajakan sambil makan gorengan akhirnya kembali merangkul rencana mendaki yang terlupakan, gelisah di sudut - sudut penantian. Setelah sempat beradu argumen hingga ribut - ribut kecil, hari keberangkatanpun berhasil ditentukan dengan damai, tanpa harus ada yg di bawa mobil ambulans. Puncak Gede, tunggu kami. :)

Pada awalnya tim kami berjumlah 5 orang, yaitu saya sebagai Ketua kelompok, sedangkan Maria, Dewi, Ratih dan Ryan sebagai anggota. Seiring berjalannya waktu, jumlah anggota bertambah, dimulai dengan Rosie ( teman Maria ), Winardi ( teman Dewi ), Arie dan Yofan ( teman saya ). Dan rencana ini dimulai dengan pendaftaran secara online di situs resmi Taman Nasional Gunung Gege Pangrango.

Berkat kerja keras Dewi, urusan pendaftaranpun selesai 1 minggu sebelum hari keberangkatan. Diluar duga'an, Ryan yang mendapat panggilan kerja terpaksa tidak dapat ikut dengan kami. Disusul dengan Winardi, Rosie, Ratih dan Maria dengan alasan masing - masing. Semoga penyesalan tidak mengganggu tidur mereka, karena telah menyia nyiakan kerja keras Dewi dalam mengurusi pendaftaran yang " njelimet " itu. Dengan batalnya mereka, sayapun akhirnya mengajak Adi yang sakit kakinya belum sembuh total untuk bergabung bersama saya.

Hari keberangkatanpun tiba, dan belanja kebutuhan logistik untuk kebutuhan selama pendakianpun selesai setelah saya menerima uang kembalian dari Mbak kasir berjilbab yang berwajah manis pilihan Adi. Iya pilihan Adi, soalnya dia ngotot antri di kasir tersebut, meski di tempat yang lain antriannya tidak lebih panjang. Dasar cowok...!!! Akan tetapi ada satu hal yang membuat saya kagum dengan kasir yang satu ini, yaitu keberanianya mengeluarkan barang yang kami beli meski tanpa kanban, Pak Mustari harus bisa menjelaskan ini. :)

Ketika menunggu kedatangan Yofan, kami berdua mengobrol sambil mengecek barang belanja'an kami di area parkir pasar swalayan yang letaknya tidak jauh dari rumah Adi. Kurang lebih 30 menit kemudian, Yofanpun datang dengan carrier yang melekat manja di pundaknya. Bergegas kami menuju Meeting Point yang telah kami sepakati sebelumnya, yaitu di "kantor" kapitalis limbung, Arie. Saya yang masih harus menjemput Dewi, dengan berat hati mesti merelakan Adi dibonceng dengan pria lain, yaitu Yofan, yang notabene adalah teman saya sendiri. Semoga kamu bahagia bersamanya, Adi. Oops...

Sesampainya di "kantor" Arie, Yofan dan Adi bergegas mengemas barang - barang kebutuhan yang akan kami bawa. Diselingi canda, tawa dan cela hingga membuat waktu keberangkatan molor setengah jam. Sekitar pukul 20 : 30, kamipun berangkat menggunakan sepeda motor yang sudah siap menaklukan terjal jalan dan mengiris gelapnya malam. Dewi, satu - satunya makhluk keturunan Hawa yang ikut dalam rombongan ini, sudah siap di jok belakang sepeda motor yang akan saya kendarai, Adi kembali bersama Yofan, dan terakhir adalah Arie,yang ditemani 2 carrier berisi barang - barang perlengkapan selama pendakian, semoga tidak terjadi affair antara Arie dan 2 carrier yang dibawanya, dikarenakan rasa sepi yang mendera di ruang hatinya, sebab jomblo menahun bisa mendorong orang bertindak melebihi batas kewajaran, kasian sekali.

Roda - roda kendaraan kami terus berputar, mengiringi malam yang bergeser pelan. Sesampainya di Babakan Madang, kami berhenti sejenak dan berniat untuk mengisi perut yang kelaparan, "lapar maksimal" kalau kata Wepe. Terutama saya dan Adi yang belum makan sejak siang hari. Akan tetapi, rencana untuk membungkam cacing - cacing yang mulai membuat kerusuhan dalam perut kami mesti dibatalkan, lantaran Arie ingin tetap melanjutkan perjalanan. Memaksa saya dan Adi membohongi perut sendiri dengan air mineral.

Tidak lama setelah kami meninggalkan jejak di depan warung nasi di Babakan Madang, kamipun mulai memasuki daerah bukit pelangi. Tempat di mana hawa dingin mulai terasa menjilati tulang dan bintang terlihat lebih banyak dan dekat. Di tempat ini saya mulai tertinggal jauh di belakang, mungkin karena kondisi jalan yang mulai naik turun dan satu lagi, saya membawa Dewi, yang berat badannya berbanding lurus dengan 2 karung beras dikali 2, dibagi dengan bilangan prima yang kelima, setelah itu dikuadratkan baru kemudian disubtitusikan dengan luas penampang wajan tempat membuat dodol lebaran. Rumit, wanita memang sangat rumit, apalagi jika sudah menyinggung berat badan. Dan gawatnya mereka selalu ingin dimengerti, salah sedikit saja akan membuat mereka bilang "dasar enggak peka", kepada pria. Ini kenapa jadi curhat?!
Demi menghindari caci maki dari Dewi perihal pembahasan yang tadi, baiknya saya lanjutkan cerita perjalanan kami yang sudah memasuki daerah puncak. Di mana tulisan "villa disewakan" berderet menghiasi sisi jalan.

Kira - kira pada pukul 00 : 30, akhirnya kami sampai di Green Ranger, tempat kami menginap sebelum melakukan pendakian di pagi harinya. Saya dan Adi yang sudah kelaparan sejak dalam perjalanan, ingin menuntaskan masalah kami yang satu ini dengan segera di warung nasi yang jaraknya dekat dari tempat kami menginap. Yofan yang tidak mau jauh dengan Adi pun ikut dengan kami, berbeda dengan Arie dan Dewi, mereka lebih memilih beristirahat dan tidur lebih dulu.

Sepiring nasi, 2 bala -bala, 4 sendok orek tempe dan segelas teh manis hangat membuat sistem metabolisme saya kembali bekerja sebagaimana mestinya. Setelah rasa lapar telah enyah dari kehidupan kami, meskipun sementara, tubuh kami juga merasa lelah setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang. Sebenarnya, selain lelah di perjalanan, saya juga lelah melihat Adi dan Yofan berselisih memperebutkan remote TV di warung nasi. Untuk mencegah hal - hal yang tidak diinginkan, saya mengajak mereka pergi meninggalkan warung nasi dan remote perusak hubungan orang itu.

Sesampainya di tempat menginap, ternyata Dewi sudah terlelap, terlebih Arie, yang suara dengkurnya terdengar hampir 1 ruangan. Yofan dan Adi bergegas menyiapkan sleeping bag mereka masing - masing guna melindungi diri dari hawa dingin yang ganas menyeringai di setiap penjuru ruangan. Dan saya adalah orang satu - satunya yang tidak menggunakan sleeping bag, meringkuk kedinginan diantara tubuh Yofan dan Dewi. Sedangkan Adi, memisahkan diri dengan kami dan tidur jauh di sudut ruangan, berseberangan. Saya yang tidak ingin tidak bisa tidur sendirian, berusaha mengganggu Yofan dan berharap dia mau berbagi sleeping bag dengan saya. Meski sedikit terusik, Yofan tetap bergeming dan membiarkan saya tidur dipagut dingin.

Sekitar pukul 07 : 30 pagi, kamipun berkemas, bersiap menuju Balai Besar TNGP untuk mengurus data - data anggota sebelum melakukan pendakian. Saya, Adi dan Yofan berangkat bersama, sedangkan Arie dan Dewi menyusul, karena mereka ingin sarapan pagi terlebih dahulu. Sampai akhirnya mereka berdua tiba dan bergabung bersama kami yang sudah bosan menunggu di depan kantor Balai Besar TNGP di buka, sambil menggambil beberapa gambar menggunakan kamera yang Adi bawa. Pukul 09 lebih, kantor Balai Besar baru dibuka, Yofan menginstruksikan kami untuk bersiap dan merapikan carrier yang berantakan selama kami menunggu, sedangkan dia sendiri akan melaporkan data - data kami untuk registrasi ulang. Lebih dari 30 menit Yofan belum juga kelihatan keluar dari gedung tersebut, akhirnya Adi dan Arie menyusulnya, sedangkan saya tetap menunggunya di depan gerbang bersama Dewi. Saya mulai gelisah, karena mereka bertiga belum juga datang. Karena penasaran, saya akhirnya menyusul mereka. Sesampainya di dalam, mereka terlihat sedang mendiskusikan sesuatu. Tanpa buang waktu, saya bertanya kepada Yofan tentang masalah apa yang menahan dia di dalam gedung ini. Ternyata, kami terancam tidak bisa melakukan pendakian, karena nama anggota yang telah di daftarkan oleh Dewi sebelumnya tidak sesuai dengan yang ikut di hari pendakian. Dan parahnya, sebenarnya ini yang paling krusial, saya tidak membawa fotokopi KTP. Berkat kesigapan Yofan dan Adi, surat izin pendakianpun akhirnya didapat setelah menanda tangani surat perjanjian bermatrai.





Lega memang, setelah kami berhasil mengantongi surat izin pendakian. Tapi perjuangan belum usai, justru baru dimulai. Demi lancarnya pendakian, sejenak kami tundukan kepala, meminta kepada Yang Maha Kuasa, memohonnya di dalam do'a. Di atas kami, mendung tipis memayung, mengiringi langkah - langkah yang kami ayun. Canda adalah obat mujarab kami untuk mengalihkan perhatian terhadap rasa lelah, hingga pada suatu tempat kami terpisah. Adi dan Arie berada di posisi depan, meninggalkan saya dan Yofan yang mencoba mengimbangi Dewi yang setiap melihat batu besar seperti melihat sofa serba guna buatan bangsa asing yang sering dijual di acara - acara home shopping. Dan duduk adalah harga mutlak baginya.

" Ayo Dew jalan lagi, sebentar lagi track nya enak kok, bukan cuma karena datar, tapi view nya juga". Ucap saya ke Dewi, yang masih sedang beristirahat. Yofan pun mempersilakan kami jalan lebih dulu sambil berucap, "udeh jalan duluan sana, nanti juga gue salip ". Agak songong memang, tapi setelah saya sadar akan keberadaan Dewi, saya mengerti. Saya dan Dewi pun beranjak, meninggalkan Yofan yang sedang berlagak. Karen jalur yang kami tempuh masih sama dengan jalur yang menuju Curug Cibodas, jadi banyak wisatawan yang juga berjalan bersama kami, pria dan wanita, orang dewasa juga anak - anak, hal yang bisa dijadikan Dewi sebagai suntikan semangat.

" Welcome to Rawa Gayonggong Dew ", seru saya, di ikuti suara hembusan nafas Dewi yang ternyata sedang tersenyum lebar, karena jalan yang ada dihadapannya tidak lagi menanjak, tetapi datar. " Lambat lo", teriak Adi kepada kami, rupanya dia dan Arie sudah menunggu kami cukup lama. Sambil menunggu Yofan yang gagal menyalip saya dan Dewi, kami berempat mengambil beberapa foto di tempat ini. Tidak lama berselang, Yofan datang bergabung bersama kami, menjadi model dan fotografer secara bergantian. Setelah merasa cukup, kamipun melanjutkan perjalanan. Sampai suatu ketika, Dewi menampakan wajah kecewa, karena sudah berada di ujung jembatan dan jalurnya kembali bebatuan juga mulai menanjak, lagi. Setelah berjalan beberapa meter dari ujung jembatan Rawa Gayonggong, kami tiba di Pos Panyancangan. Mulai dari tempat ini, kami mengambil jalur yang di khususkan untuk para pendaki dan terpisah dengan para wisatawan yang menuju Curug Cibodas. Selain itu, kami juga terpisah dengan wisatawan wanita bercelana pendek warna hitam yang jadi perbincangan kami ( kecuali Dewi ) selama perjalanan menuju tempat ini.





Fokus kami sebelum mencapai Kandang Badak, yang rencananya akan menjadi tempat berkemah kami nanti adalah Tempat Wisata Air Panas. Di sana kami akan membuka bekal, sekedar untuk tambahan energi. Setelah berjalan cukup lama, Dewi mulai gusar karena belum juga sampai di tempat yang telah di tentukan. Hal ini terbaca, karena dia kerap bertanya, " masih jauh enggak sih? ", atau " kira - kira berapa lama lagi? ", dan pertanyaan - pertanyaan sejenis lainnya. Jarak antar Panyancangan ke Tempat Wisata Air Panas memang jauh, track nya pun cukup berat, apalagi untuk Dewi yang baru pertama kali. Selain lelah, lapar juga menjadi ujian tersendiri, karena memang sudah lewat tengah hari. Salah satu pemompa semangatnya adalah bekal roti tawar yang akan diolesi dengan selai strawberry, hal ini yang membuat kami tidak beristirahat lama, dan jalan lagi.

Suara gemuruh air pun terdengar semakin dekat, membuat derap langkah kami semakin cepat. Dan akhirnya kami sampai di Tempat Wisata Air Panas. Cepat kami mengeluarkan bekal yang kami bawa dan memakannya sambil melepaskan lelah yang telah lama menggelayuti tubuh kami masing - masing. Kami tidak begitu lama di tempat ini, setelah dirasa cukup, kamipun melanjutkan perjalanan. Kali ini Yofan dan adi jalan lebih dulu, karena takut kami tidak dapat space  yang cukup untuk mendirikan tenda di Kandang Badak, mengingat banyaknya pendaki yang juga berangkat di hari yang sama bersama kami.

Setelah melewati Kandang Batu, rupanya tenaga Arie mulai habis terkuras. Tidak jarang dia duduk dan beristirahat, sangat berbeda ketika di awal pendakian, bahkan tidak jarang Dewi mengajaknya untuk jalan lagi. Saya cuma berharap, semoga masih ada testoteron yang bersemayam di tubuh Arie, cukupan untuk membahagiakan istrinya nanti, lebih bagus lagi jika dia masih bisa melanjutkan dinastinya kelak.

Ketika track yang kami lewati sudah agak datar, saya memberi tahu Dewi kalo tempat kami berkemah sudah sangat dekat, dan Dewi pun meresponnya dengan meninggkatkan kecepatan langkahnya dan mengurangi istirahat, begitupun Arie. Benar saja, tidak lama kemudian akhirnya kami melihat tenda - tenda yang telah berdiri. Adi dan Yofan yang sudah menunggu kami, memanggil kami untuk cepat bergabung karena hari sudah mulai sore, dan tenda harus segera dipasang. Kamipun membagi tugas, saya , Adi dan Yofan bertugas untuk mendirikan tenda, sedangkan Arie dan Dewi mengambil air.

Tenda telah berdiri, barang - barang pun sudah masuk ke dalamnya. Sambil menunggu air yang kami masak matang, kami menyiapkan bahan - bahan makanan yang akan kami masak setelahnya. Dan ternyata tidak ada beras di dalam ransel kami, bahan yang seharusnya dibawa Arie, entah ada yg sabotase atau di curi alien, yang pasti kami kebingungan dengan tidak adanya beras. Beruntung ada pendaki yang akan turun dan masih mempunyai beras sisa, jadi kami terselamatkan olehnya, perkara beras akhirnya beres sa'at itu juga.

Kelamnya malam telah menelan sisa - sisa senja yang lebih cepat hilang meninggalkan kami di tengah hutan. Di dalam tenda, kami membicarakan rencana untuk esok pagi guna mengejar pijar fajar di puncak Gede. Setelah sepakat, kamipun bersiap untuk tidur. Dan seperti biasanya, Adi tidak langsung tidur, tetapi curhat tentang mantan - mantan pacarnya yang banyak itu, seperti ritual yang haram dilewatkannya ketika berkemah. Dewi yang sudah menyetel alarm pada pukul 02 : 30, tertidur lebih dulu, hal yang sama dilakukan oleh Yofan.




Bunyi alarm menggugurkan bunga - bunga tidur yang belum sempat mekar di malam saya yang dingin. Yofan yang telah terbangun langsung memasak air untuk membuat teh hangat, di susul oleh Adi. Saya dan Dewi menyiapkan bahan makanan yang akan kami bawa untuk kami masak di puncak nanti, sedangkan Arie, tetap tidur lelap, tidak tertarik untuk melanjutkan pendakian. Setelah semuanya selesai, kami pun keluar dari tenda dan siap untuk berangkat. Do'a telah terpanjat, dari bibir - bibir kami yang bergetar karena dingin yang hebat. Dan langakahpun kami mulai, di hari yang masih dini. Tidak jauh dari Kandang Badak, Dewi ternyata sudah kelelahan, terlihat dari wajahnya yang pucat dan langkahnya yang terlihat sangat berat. Lantas, dia memutuskan untuk turun lagi, kembali ke tenda. Setelah berunding dengan Adi dan Yofan, saya meminta mereka untuk menunggu saya, karena sehabis mengantarkan Dewi ke tenda, saya akan kembali lagi melanjutkan perjalanan bersama mereka.

Sekitar pukul 03 : 30 pagi, saya bergabung bersama mereka kembali. Tanpa buang waktu lagi, kami bertiga tancap gas untuk mendaki. "Kami sama pejalan larut. Menembus kabut", demikian tulis Chairil Anwar dalam KAWANKU DAN AKU, situasi yang sedikit mirip dengan apa yang sedang kami alami di tempat ini, di Nusantara yang katanya kaya ini.

Oksigen yang mulai menipis, ditambah nikotin yang sering saya injeksikan ke tubuh saya melalui pernafasan membuat tenaga saya cepat habis. Akan tetapi, dua cecunguk yang mendaki bersama saya ini membuat semaunya tidak begitu terasa. Sampai akhirnya tibalah kami di tempat yang sangat ingin saya jumpai, yup Tanjakan Setan. Track yang tingkat kemiringannya hampir 90 derajat ( atau memang 90 derajat ) dan untuk melewatinya harus bergelantungan menggunakan seutas tambang, membuat adrenaline saya terpacu untuk menaklukannya. Dan sensasinya memang luar biasa, melebihi Joged Oplosannya Soimah, plus diapit oleh Nabilah. :)


Kami berhasil menginjakan kaki kami di puncak ketika jam digital di hand phone Adi menunjukan angka 05 : 07. Kami terus berjalan, menyusuri puncak Gede yang memang panjang. Tanpa menunggu lama, fajar yang kami kejar mulai bepijar menebar sinar yang masih malu - malu untuk keluar. Awan yang ada di hadapan kami letaknya lebih rendah dari tempat kami berdiri, sehingga terlihat seperti gulungan ombak yang berkejaran, Yofan menyebutnya samudra di atas awan. Seketika pandang kami tercuri, sebelum matahari muncul menyinari hari, semburat jingga menebar pesona, di ikuti oleh warna oranye berselendang kuning keemasan, berlari menembus putihnya awan. Terkadang kabut yang dihasilkan belerang menutupinya, cari perhatian. Tidak mau ketinggalan, jingga kembali datang, memeluk sinaran warna yang memanjakan pandang di muka langit biru yang tenang.

Adi mulai sibuk dengan kameranya, begitupun Yofan yang keranjingan merekam setiap pergerakan awan menggunakan handy cam seperti kesurupan, entah setan apa yang merasukinya sampai - sampai dia juga merekam orang yang sedang buang air kecil di balik pohon, atau mungkin karena orang itu adalah seorang playboy idolanya?! entahlah. Yang pasti, apa yang kami saksikan, membuat kami selalu ingin menikmatinya lagi dan lagi, terlebih, kami masih punya hutang janji dengan Mandalawangi. :)







...
Camerado, I give you my hand!
I give you my love more precious than money,
I give you myself before preaching or law;
Will you give me yourself? Will you come travel with me?
Shall we stick by each other as long as we live?

                       ( Song of The Open Road, Walt Whitman )


@doel_12

Rabu, 23 Oktober 2013

Kamu

Kamu adalah rembulan
Disa'at hari sembunyi dalam jubah malam
Kau selimutiku dengan teduh sinarmu yang menawan

Kamu adalah kejora
Ketika ku tersesat di tengah labirin resah
cahayamu menuntun langkahku menembus onak gelisah

Kamu adalah bunga
Yang mekar menyambut fajar dengan berjuta wangi
mengakar tumbuh di tengah kegamangan hati

Kamu adalah pelangi
Menyeka sisa hujan yang enggan pergi
anggunkan sinar mentari dengan warna selendang bidadari

Kamu adalah puisi
terangkai manis di wajah prasasti hati
terukir abadi di atas lempengan waktu tanpa tepi



@doel_12



Jumat, 16 Agustus 2013

Shadow

Sore ini, tanggal 16 Agustus 2013, beberapa tahun yang lalu pada tanggal yang sama, dari tempatku sekarang berdiri terlihat deretan bendera Merah Putih menyambut hari jadi negeri ini. Tapi sekarang tidak lagi, sepertinya penyakit apatis sudah cukup akut menjangkiti orang - orang di sekitar sini atau bahkan mungkin terjadi di banyak pelosok Bumi Pertiwi?. Semoga saja tidak, karena bila memang demikian akan sangat ironis dengan apa yang digambarkan oleh C. Anwar dalam puisi sadurannnya yang berjudul Karawang - Bekasi. Terlepas dari kata nasionalisme yang belakangan ini maknanya sudah mulai pudar, tanggal 17 Agustus tetap sakral, setidaknya untuk diriku sendiri.

Matahari yang dijemput petang, bergerak perlahan menuju peraduan. Di hadapan senja yang mulai meremang, aku duduk termenung di tepian sungai yang membelah ladang. Di permuka'annya yang tenang, aku lihat sebuah bayang yang menatapku dengan teliti. Tatapannya seperti menyimpan banyak kisah dari apa yang telah dilewati, marah yang berapi - api serta harap dari dalamnya misteri.

"Apa kabar kawan seperjalanan?"

Tanyanya mengejutkanku ketika kucoba menghindari benturan pandang dengan tatapannya yang tajam.

"'tak usah kau jawab pertanya'anku yang baru saja terlontar, karena aku hanya ingin kau mendengar semua yang akan aku sampaikan untuk kemudian kita renungkan...semuanya...bersama..."

Lanjutnya tanpa jeda.

' Kawan, ingatkah kamu dengan suatu sore ketika kau lari bertelanjang kaki dengan senyum di wajah dan lesung pipit yang menghiasi kedua sisi pipi?. Aku sudah bersamamu waktu itu, bersama teman - teman sepermainanmu yang kesulitan merebut bola plastik dari kakimu. Atau ketika kau dengan yang lain membuat kegaduhan shalat jama'ah di shaf paling belakang sebelum belajar membaca Al-Qur'an dengan Ustadz Ridwan. Apakah kau rindu masa - masa itu?. Jujur, akupun rindu, rindu ketika kita masih menatap dunia dengan pembatas yang jelas antara kesenangan dan kesedihan. Senang ketika bermain dengan teman atau sekedar diberi uang jajan, dan sedih ketika Ibu enggan membelikan mobil mainan. Sesederhana itu dan sejelas itu garis yang membatasinya. Tidak sekompleks sekarang, dimana kita harus lebih dalam berfikir dan memahami untuk dapat mengerti kenapa kita bisa senang atau sedih. Tapi ini adalah anak tangga yang harus kau titi dan lewati untuk mengenali siapa dirimu sendiri sebelum ajal membebaskan jiwa dari sangkar materi. Aku setuju jika masa kecil adalah masa - masa yang paling menyenangkan. Tapi waktu terus melaju kedepan kawan, dan kenangan adalah guratan pelajaran diatas lempeng kehidupan. Dan lengan waktu pula yang menuntunmu ke ruang yang sekarang sedang kau jelang. Ruang yang kata mereka adalah ruang kedewasa'an. Tapi kau sempat membuatku kecewa ketika kau mulai memasukinya. Kau sempat lupa dengan ritual kultus Yang Maha Kuasa yang selalu kau laksanakan sebelum kau berada di fase ini. Kau terbuai dengan kemilau dan terlelap di dasar gelap, hingga alpa dengan ajal yang menguntit mengenap - endap. Sepertinya kau masih butuh banyak belajar akan hal ini dengan mawar yang kau jumpai di tengah perjalanan menuju masa sekarang. Tahukah kamu? kalau mawar itu selalu berdo'a dan kemudian bertanya kepada dirinya sendiri, tentang apa yang telah ia berikan dan apa yang akan ia lakukan selama berada di dunia ini. Dan itu selalu ia lakukan ketika ia tengah menatap angkasa, mengagumi kehebatan pencipta-Nya. Aku ragu kau menyadari hal yang sama, karena kau terlalu sibuk dengan buku - buku Kahlil Gibran, El Jalaluddin Rumi dan Soe Hok Gie yang kau kagumi. Sedangkan kitab suci tersimpan rapi dalam lemari. Apakah Ramadhan kemarin bisa memanggil sisi jiwamu yang sempat hilang datang kembali?."

 Aku hanya terdiam sambil memeluk lutut, tanpa sepatah katapun yang terletup. Tapi getaran di dada bertingkah sebaliknya dan seolah berkata," lanjutkan kawan, bongkar semua kejadian dalam kotak ingatan yang mulai terkubur residu waktu."

Dan bayang itu pun menjawab...

" Percuma saja kuteriakan padamu tantang semua kebaikan dan keburukan dari apa yang telah kau lakukan, jika kau hanya mendengarnya dengan telinga yang fana, 'tak akan ada saripati yang  bisa kau ambil darinya"

Lantas ia pun melanjutkan ucapannya...

" Beberapa jam lagi dari sekarang adalah tanggal 17 Agustus, bersama'an dengan hari kemerdeka'an Republik yang kau bilang sangat kau cintai ini adalah monumen untuk dirimu sendiri, sebagai peringatan bahwa usia yang dibekali-Nya telah tercuri 365 hari. Jangan pernah berpikir tentang gelaran pesta, karena hidupmu yang dipagari usia semakin dekat dengan pembaringan yang kekal. Jadi, untuk apa dipestakan?!. Sebait lagi kawan, sebelum wujudku hilang dicadari gelap malam. Setiap cerita yang tergurat di atas usia dalah telaga jiwa, dimana kau bisa berkaca. Melihat kembali kelalaian yang bisa membuatmu jatuh tersungkur, hingga nikmat Tuhan yang sering terlupakan tanpa ucapan syukur. Dewasa bukanlah banyaknya bilangan umur, tetapi tentang pekanya jiwa mengukur seperti bentangan tali yang terikat pada busur. Semoga kau semakin pandai memaknai hidup, di sisa nafas yang akan terhembus dan terhirup. Dan semoga kita bisa berinteraksi setiap hari, tidak hanya sekali dalam satu revolusi bumi terhadap matahari. Karena aku akan tetap bersamamu, semenjak kau bersentuhan dengan memori hingga akhir nanti, karena aku adalah kamu andai kau sadari itu.'

Seketika bayang wajah itu pudar setelah seekor capung hinggap sebentar diatas tenangnya aliran sungai tepat dihadapanku yang tengah mnyendiri. Aku yang berharap bayang wajah itu kembali, hanya mendapati bayanganku sendiri. Akupun beringsut pergi sambil menerka - nerka strategi apa yang akan diterapkan oleh David Moyes untuk menghadapi Swansea City esok hari, dan apa yang akan dialakukan oleh Anonio Conte terhadap Juventus guna memenangan Super Copa Italy melawan Lazio nanti. Meski senyum ini belum hilang, mengingat kemenangan Timnas kemarin harinya, meskipun yang dikalahkan hanya Tim sekelas Brunei Darussalam. Paling tidak itu bisa menjadi kado yang cukup berkesan untuk Indonesia

" Dasar bebal...!!! masih saja berfikir tentang sepak bola, sementara adzan maghrib sudah terdengar menggema di telinga"

Makiku kepada diriku sendiri dalam hati, dan bergegas membersihkan diri.

@doel_12